Posts

Showing posts from February, 2025

Syair Agama: Cahaya Petunjuk dalam Kehidupan

Pembuka: Bismillah kata pembuka Dengan asma-Nya hidup bermakna Limpah rahmat-Nya sekalian rata Kepada umat-Nya yang setia Keutamaan Ibadah: Rajin-rajinlah beribadat Jangan lupa mengerjakan salat Perbanyak sedekah dan zakat Agar selamat dunia akhirat Ayat-ayat suci kudendangkan Salat lima waktu kulaksanakan Zikir-zikir terus kulantunkan Ibadah kepada-Mu, Tuhan Janganlah engkau takabur Perbanyak tafakur dan bersyukur Nikmat Allah wajib disyukuri Agar selamat dari siksa kubur Pentingnya Taubat: Janganlah engkau berbuat maksiat Jangan pula berbuat jahat Segeralah engkau bertobat Agar hidup lebih selamat Bertobatlah setelah berbuat salah Karena manusia makhluk yang lemah Mohon ampun dan petunjuk-Nya Agar selamat dunia dan surga Kini kuingin kembali Kepada-Mu wahai Ilahi Agar tenteram menaungi Untuk sisa hidup ini Menjauhi Kejahatan dan Menguatkan Iman: Jauhi semua perbuatan jahat Jauhi pula perbuatan maksiat Mari segera kita bertaubat Supaya selamat dunia akhirat Jangan risau d...

Andalusia

Ketika bujan deras memberikan keberkahan yang sebesar-besarnya Oh saat perjumpaan kita penuh kenangan di Andalusia Pertemuan dengan kekasih memang sangat indah. Namun berlali cepat seperti mimpi atau kenikmatan sekejap Kala hujan deras memberikan keberkahan yang sebesar-besarnya Ohhh saat perjumpaan kita di Andalusia. Di malam hari kegelapanya mampu menyembunyikan rahasia cinta Andai saja matahari pagi tidak menyinarinya Dimana berkilau condong ke depan sebelum jatuh cinta Berjalan terus meninggalkan cinta dan kenangan indah Baru saja kami merasakan kebahagiaan perjumpaan hingga pagi hari tiba. Lalu kami harus berpisah saat penjaga kasar saat menyerang dan membubarkan. Bintang menghilang dan mengirim pagi untuk memisahkan kita Mata bunga bakung yang iri, akhirnya kebahagian kita tidsk bertahan lama. Kejayaan yang disayangkan harus segera berlalu Berlalu dalam sekejap mata Bagai mengarahkam anak panah lalu melepaskanya Maka hatiku adalah milik pemangsa Dan orang yang membuat air mataku ...

Malam Jatuhnya Kami

Kami terjatuh. Aku dan Eki. Tersungkur ke tanah, tubuhku terseret bersama motor yang tiba-tiba membisu, sementara Eki terlempar ke dalam semak-semak di pinggir jalan. Dunia terasa berhenti sejenak, sebelum suara langkah-langkah cepat teman-temanku membangunkan kenyataan. Mereka bergegas mendekat, menanyakan keadaan kami, memeriksa luka-luka yang mulai terasa perih di kulit. Siku tanganku lecet, perihnya mulai menjalar seiring dengan denyut jantungku yang masih berpacu kencang. Eki lebih parah—kakinya terluka, dan satu lagi: sandalnya hilang entah ke mana. Kami mencari di sekitar, menyibak debu yang menempel di pakaian, menahan perih sambil sesekali menarik napas panjang. Aku masih bersyukur—aku masih hidup. Tapi sandal Eki? Masih belum ketemu. Satu menit berlalu. Dua menit. Dengan cahaya redup dari ponsel Nokia jadul, kami menyisir sekitar lebih teliti. Lima menit kemudian, Nopen berseru. "Ketemu!" Aku menoleh. Sandal itu... ada di seberang parit, tersangkut di ujung semak-se...