Malam Jatuhnya Kami
Kami terjatuh. Aku dan Eki.
Tersungkur ke tanah, tubuhku terseret bersama motor yang tiba-tiba membisu, sementara Eki terlempar ke dalam semak-semak di pinggir jalan. Dunia terasa berhenti sejenak, sebelum suara langkah-langkah cepat teman-temanku membangunkan kenyataan. Mereka bergegas mendekat, menanyakan keadaan kami, memeriksa luka-luka yang mulai terasa perih di kulit.
Siku tanganku lecet, perihnya mulai menjalar seiring dengan denyut jantungku yang masih berpacu kencang. Eki lebih parah—kakinya terluka, dan satu lagi: sandalnya hilang entah ke mana.
Kami mencari di sekitar, menyibak debu yang menempel di pakaian, menahan perih sambil sesekali menarik napas panjang. Aku masih bersyukur—aku masih hidup. Tapi sandal Eki? Masih belum ketemu.
Satu menit berlalu. Dua menit. Dengan cahaya redup dari ponsel Nokia jadul, kami menyisir sekitar lebih teliti. Lima menit kemudian, Nopen berseru. "Ketemu!"
Aku menoleh. Sandal itu... ada di seberang parit, tersangkut di ujung semak-semak sepuluh meter dari tempat kami jatuh. Seolah ia punya sayap dan terbang mencari tempat pendaratan yang lebih nyaman. Entahlah. Kami hanya bisa tertawa kecil di tengah luka yang masih berdarah.
Aku mengambil alih kemudi, membawa motor menyusuri jalan berdebu yang terasa lebih panjang dari sebelumnya. Di atas sana, bulan bersinar terang, tapi rasanya seperti menertawakan kami. Seakan-akan ia ikut menyaksikan betapa konyolnya kami jatuh tanpa sebab yang jelas. Bintang-bintang berkelip, membentuk mata-mata yang seolah mengejekku. Aku menggeleng, mencoba mengusir pikiran aneh yang mulai mengganggu.
Sepuluh menit berlalu, kami berhenti di sebuah warung kecil di tengah perkebunan sawit. Kami membeli beberapa botol air, sebagian diminum, sebagian lagi untuk membasuh luka. Rasa perihnya menyadarkanku bahwa kami masih di dunia nyata. Lima menit kemudian, kami kembali melanjutkan perjalanan.
Jalanan semakin buruk. Lubang-lubang menganga, tunggul-tunggul kayu buatan warga berjajar seperti jebakan. Aku menahan gas, memastikan kecepatan motor tak lebih dari 50 km/jam.
Setengah jam kemudian, kami tiba di posko. Hanya aku dan Eki—teman-teman lain memilih singgah di desa sebelah, katanya mereka mau bakar ayam. Aku tak terlalu peduli. Aku hanya ingin mandi dan tidur.
Namun, mandi dengan tubuh penuh luka di tengah malam bukanlah ide yang bagus. Air dingin menusuk kulit, rasa perihnya hampir tak tertahankan. Aku mengepalkan tangan, menggigit bibir menahan sakit.
Saat itu, suasana hening. Terlalu hening.
Aku mulai merasa ada yang mengintip dari celah ventilasi kamar mandi. Seketika, bulu kudukku berdiri. Aku menoleh cepat, tapi tak melihat apa-apa. Aku menenangkan diri—mungkin hanya perasaanku saja.
Selesai mandi, aku langsung berbaring, mencoba tidur. Namun, pikiranku masih kacau. Apakah aku gegar otak? Kenapa aku merasa dunia di sekelilingku tidak stabil?
Lalu, aku merasakannya.
Ada sesuatu yang mengamatiku.
Aku masih menutup mata, tapi aku bisa merasakan keberadaannya. Nafasku tertahan. Ada suara... seperti bisikan kacau yang tak jelas. Suara itu semakin dekat, lalu menjauh, lalu mendekat lagi.
Langkah kaki terdengar di ruangan.
Perlahan, suara itu bergerak ke arah pintu. Kemudian—
Kreeek.
Suara pintu terbuka.
Jantungku hampir berhenti. Aku membuka mata dengan cepat.
Di ambang pintu, Eki berdiri.
Tapi... dia membuka pintu dari luar.
Jika Eki baru saja masuk...
Lalu, siapa yang tadi berada di dalam sini bersamaku?
Riza Risky
Comments
Post a Comment