senja di ujung jembatan
--- Bab 1: Kembali Langit Pekanbaru memerah. Senja jatuh perlahan di ujung Jembatan Siak IV, mewarnai sungai yang tenang dengan kilau jingga dan bayang-bayang panjang. Raka berdiri diam di sisi jembatan, tangannya menggenggam sketsa tua yang mulai pudar warnanya. Kertas itu sudah terlipat-lipat, dengan bekas noda kopi di sudutnya—jejak masa lalu yang entah kenapa tetap ia simpan, bahkan setelah bertahun-tahun pergi. Di bawahnya, perahu kayu melintas pelan. Suara motor klotok-nya membelah sunyi. Aroma sungai dan udara lembap menyatu dengan ingatannya: siang bolong naik sepeda ke pasar, malam-malam begadang menggambar di teras, dan tawa yang menggema di warung kopi dekat pelabuhan tua. Semua itu dulu terasa sempit—kota yang katanya tak pernah benar-benar berubah. Tapi sekarang, justru perubahan-perubahan kecil itulah yang membuat dadanya sesak. Trotoar yang dulu bolong, kini sudah dipoles rapi. Toko kelontong tempat ia dulu beli pensil kini berganti jadi kedai kopi dengan lam...