Dari Akar yang Membara: Kisah Kacang Mayang"


Bab 1: Sutra Merah di Gerbang Istana

Angin malam menyapu pelan pipiku saat aku berdiri di gerbang istana. Wangi bunga tanjung masih tercium samar, meski kini bercampur dengan asap dan darah. Di kejauhan, bulan purnama menggantung diam di langit, menyaksikan kehancuran yang tak pernah aku bayangkan terjadi pada malam seharusnya penuh berkah.

Malam itu adalah malam perjodohanku. Malam penyatuan dua kerajaan besar di tepi Sungai Siak. Tapi tak ada musik, tak ada nyanyian. Yang terdengar hanya jerit dan gemuruh. Api membakar paviliun utama, dan tangga istana—yang dulu kupijak dengan harapan—kini disirami darah para penjaga.

Aku ingat tubuh dayangku, Ranti, menggigil dalam pelukanku. Gaun sutra merah yang kupakai—hadiah ibuku dari Melaka—robek untuk membalut lukanya. Tangannya menggenggamku lemah, matanya mulai buram.

“Putri...” bisiknya, begitu lirih.

“Ssshh... aku di sini. Bertahanlah. Aku janji,” ucapku, meski suaraku sendiri pecah. Aku menggigit bibir, mencoba menahan air mata. Putri tidak boleh menangis di medan perang—begitu kata nenekku. Tapi ini bukan sekadar perang... ini pengkhianatan.

Langkah kaki berat terdengar dari dalam istana. Lalu ia muncul—Gimpam, sahabat masa kecilku, pengawal setiaku, satu-satunya orang yang masih berdiri di antara aku dan kehancuran. Wajahnya berlumur debu dan darah, tapi matanya tetap tajam seperti dulu, penuh sumpah dan nyala api.

“Gimpam,” panggilku.

“Aku terlambat...” katanya lirih. Ia menatap sekeliling, melihat istana kami runtuh satu per satu.

“Mereka datang dari muara... kapal hitam, tak bertanda. Serangan licik.”

Aku berdiri perlahan, merapikan sisa kain di bahuku. Gaun ini seharusnya menjadi lambang cinta dan perdamaian. Tapi malam ini, warnanya seolah jadi pertanda darah.

“Mereka belum menang,” kataku. “Selama kita masih bernapas, belum.”

“Aku harus membawamu pergi. Ke hulu. Ke tempat yang aman,” kata Gimpam. Tapi aku menggeleng.

“Tidak. Jika aku pergi, mereka akan terus mengejar. Tapi jika aku tinggal... mereka akan percaya semuanya sudah berakhir.”

Ia menatapku lama. Aku tahu ia ingin membantah. Tapi aku juga tahu dia mengerti. Ia selalu mengerti.

“Bawa nama negeriku, Gimpam. Bawa kisah kita. Biarkan dunia tahu bahwa kami pernah ada—bahwa seorang putri berdiri melawan, meski semua runtuh.”

Dan ia pun pergi. Kudanya melesat menembus kabut, membawa harapanku yang tersisa.

Aku kembali berdiri di gerbang istana yang nyaris runtuh, gaunku berkibar tertiup angin malam. Dari kejauhan, suara ledakan menggema—menara tempat ayahku biasa duduk kini terbakar. Tapi aku tak bergerak. Aku menatap Sungai Siak yang mengalir tenang, menyimpan segalanya.

Jika suatu hari kau mendengar kisah tentang Putri Kaca Mayang, maka ketahuilah... malam ini adalah malam aku memilih tak lari dari takdirku.

Dan kepada sungai yang setia, aku titipkan kisahku.

---

Bab 2: Suara yang Tak Pernah Diam

Mereka bilang ketika seseorang pergi, jejaknya akan hilang bersama waktu. Tapi itu tidak berlaku bagi Gimpam. Setiap detak malam, aku masih bisa mendengar langkah kudanya di benakku. Masih bisa merasakan bagaimana tangannya menggenggam pedang dan harapanku dalam satu waktu.

Aku tak pernah melihat kepergiannya secara utuh. Hanya siluetnya yang pudar di antara kabut dan bara. Tapi dalam pikiranku, aku menciptakan ulang perjalanan itu, seolah jiwaku menyertainya dari jauh.

Ia pasti melintasi jalan setapak yang dulu kami lalui saat kecil—melewati hutan akasia, menuruni lembah di mana anggrek liar tumbuh tanpa takut. Di sana, di antara desir rumput dan bisikan dedaunan, mungkin Gimpam menyebut namaku. Atau mengutuk takdir yang memisahkan kami di malam paling gelap itu.

Aku tahu ia tak menangis. Tapi aku yakin dadanya sesak. Karena Gimpam, meski bersenjatakan baja, selalu menyimpan kelembutan. Terutama padaku.

Setiap malam setelahnya, aku menulis di udara. Kalimat-kalimat yang hanya sungai dan bulan yang tahu:

> “Jika kau masih hidup, Gimpam, bawa kisah kita pada siapa pun yang mau mendengar. Ceritakan tentang negeri kami yang pernah berdiri, tentang taman-taman yang mekar tanpa takut. Tentang aku, yang berdiri di gerbang istana, bukan sebagai lambang kekalahan, tapi perlawanan.”



Kadang aku merasa ia menjawab, lewat angin malam atau gemericik air.

Dan saat sunyi benar-benar mengambil alih, aku berbicara pada bayanganku sendiri. Karena hanya itu yang tersisa.

Aku tak tahu di mana ia kini. Di hulu sungai? Di dalam hutan rimba? Atau tengah berdiri di alun-alun negeri asing, menyebut namaku dalam bahasa yang tak kumengerti?

Yang kutahu, selama suara dalam hatiku belum diam, maka kisah ini belum berakhir.
---

Bab 3: Di Balik Kabut Pegunungan

Ada kalanya aku berpikir, barangkali para dewa masih menyisakan sedikit rasa iba. Karena di antara reruntuhan, masih ada yang bertahan. Masih ada nama yang dibisikkan angin, dan langkah yang menolak untuk berhenti.

Aku membayangkan Gimpam sampai di suatu tempat jauh di utara. Sebuah pemukiman tersembunyi di balik lapisan kabut dan heningnya pegunungan. Tempat yang bahkan peta pun tak pernah menyebut namanya. Orang-orang menyebutnya Kota Awan, karena atap rumahnya seolah menembus langit, dan embun menggantung sepanjang hari di celah-celah bambu dan batu tua.

Di sanalah, mungkin, Gimpam mencoba melupakan. Atau justru di sanalah ia mengingat segalanya.

Aku pernah mendengar kisah tentang seorang lelaki muda penuh luka yang datang dari selatan. Pakaian lusuh, pedang retak, namun matanya menyala seperti bara yang tak padam. Ia tak banyak bicara, hanya menunduk ketika ditanya, dan memandang jauh ketika sendiri.

Orang tua yang tinggal di sana, Empu Wira Dipa, adalah penjaga warisan lama. Dulu ia penulis naskah-naskah kerajaan. Kini, ia hanya menyalakan dupa dan menyimpan buku-buku dalam peti kayu. Tapi ketika ia melihat pemuda itu, katanya, ia tahu: kisah belum usai.

> "Ada sejarah yang belum selesai ditulis," ucap Empu Wira. "Dan barangkali pena terakhirnya kini berdiri di hadapanku."



Gimpam tak menjawab, tentu. Tapi di malam hari, saat kabut turun dan desa tenggelam dalam diam, ia mulai menulis. Bukan dengan tinta, tapi dengan luka dan ingatan. Di tanah liat, di balik bilik kayu, bahkan di langit malam—ia mulai merangkai kembali cerita kami.

Dan aku? Aku tahu. Karena hatiku masih terikat padanya. Dan meski tubuhku terpenjara di istana baru yang dibangun atas darah, jiwaku masih bebas menjelajah.

---

Bab 4: Suara yang Tak Ingin Didengar

Semua istana punya dinding. Tapi istana yang dibangun dari pengkhianatan punya dinding yang lebih tebal. Dinding bisu, dingin, dan selalu curiga.

Aku duduk di pelataran, pura-pura merajut, padahal telingaku mencuri tiap percakapan. Pengawal-pengawal baru datang dari utara, dan suara langkah mereka lebih keras dari biasanya. Pemimpin mereka, seorang bangsawan muda bernama Adikara, mulai mengambil posisi yang dulu milik ayahku—tapi dengan tangan besi dan wajah tanpa senyum.

Istana ini sunyi dalam keramaian. Semua berjalan dengan rapi, tapi terlalu rapi—seolah siapa pun yang menyimpang sedikit saja, akan lenyap esok pagi. Dan banyak yang memang lenyap. Beberapa pelayan lama, penulis istana, bahkan penjaga taman… hilang, begitu saja.

Tapi aku masih di sini.

Mereka kira aku sudah patah, dan dalam cara tertentu, aku memang retak. Tapi hanya retak, belum hancur.

Karena di balik dinding ini, aku menyimpan sesuatu. Bukan senjata. Bukan rencana besar. Tapi sesuatu yang bahkan lebih berbahaya bagi mereka:

Ingatan.

Aku ingat siapa yang berdiri terakhir di pelataran saat istana terbakar. Aku ingat suara-suara yang dibisiki dalam gelap. Aku ingat naskah-naskah yang sempat kusembunyikan di balik kain tidur, berisi peta perbatasan lama, jalur rahasia, dan nama-nama yang dulu setia.

Dan aku tahu: Gimpam masih hidup.

Setiap bulan purnama, aku menulis sepucuk surat kecil dan menyelipkannya di balik pakaian seorang penjaja keliling yang masih bisa kupercayai. Aku tidak tahu apakah surat itu sampai. Tapi aku percaya, harapan akan selalu menemukan jalannya, selama kita tidak membiarkannya mati.

> “Jika kau membaca ini, ketahuilah: masih ada yang menunggumu di dalam istana. Masih ada kisah yang harus kau selesaikan. Dan aku masih mengingat semuanya.”



Malam ini, angin datang dari utara. Membawa harum dupa dan debu tua. Dan untuk pertama kalinya sejak istana ini berganti tangan, aku tersenyum kecil.

Mungkin, ia membaca suratku.


---

Bab 5: Mereka Mengira Aku Diam

Setiap sore, suara gamelan masih terdengar dari ruang tengah. Mereka memainkannya demi menjaga citra kemewahan. Tapi nadanya salah. Lagu-lagu lama tidak pernah dimainkan dengan hati kosong. Dan aku tahu, bahkan nada bisa menangis jika dimainkan oleh tangan yang takut.

Hari ini aku melihat sesuatu yang tak biasa.

Seorang anak pelayan baru, matanya tajam seperti mata kijang di rimba. Ia menyapu lantai dengan penuh ketelitian, tapi caranya memandang lorong-lorong tua terlalu tahu. Terlalu dalam. Seperti seseorang yang tahu bahwa dinding-dinding ini menyimpan lebih dari sekadar debu sejarah.

Aku mengikutinya diam-diam. Ia berlutut di dekat tiang tua di aula barat, membuka sedikit papan kayu yang longgar, dan meletakkan secarik kain kecil di dalamnya.

Sebelum aku sempat bergerak, ia menoleh.

“Tuanku Putri…” katanya pelan. Bukan dengan suara takut, tapi dengan hormat yang jujur.

Aku tidak tahu siapa dia. Tapi dia tahu siapa aku.

Dan lebih dari itu—ia tahu bahwa aku belum menyerah.

Namanya Naya. Masih remaja, tapi matanya memancarkan api yang sama seperti yang dulu kulihat di mata Ayah saat ia berbicara tentang negeri ini. Dia bukan sekadar pelayan. Dia tumbuh dari reruntuhan, anak dari salah satu panglima kecil yang hilang setelah pemberontakan. Kini, ia menyusup ke dalam istana, menyamar sebagai pembantu, membawa pesan-pesan dari luar.

Dan salah satu pesan itu membuat napasku tercekat:

> “Gimpam selamat. Dia sedang menuju barat daya. Dia mencari jalan masuk. Tapi ia tidak sendiri—dan tidak lagi hanya anak-anak rimba.”



Aku memejamkan mata. Dunia mulai mendekat ke dinding-dinding ini. Suara-suara yang dulu dibungkam kini mulai menggaung lagi di lorong-lorong sepi. Dan malam ini, aku tidak akan berdoa dengan putus asa.

Aku akan berdoa dengan rencana.

Dan untuk pertama kalinya, sejak hari pengkhianatan itu, aku memanggil namaku sendiri dalam hati, dengan penuh keberanian:

"Aku Putri Lintang. Aku darah raja. Dan ini belum akhir kisah kami."


---




Comments

Popular posts from this blog

senja di ujung jembatan

Airmata waktu 2