Airmata waktu 2

(Tuan menjawab, perlahan—seperti menenangkan api yang tak ingin padam, hanya ingin dijaga)

Nona,
ragu tak pernah datang untuk melukai,
ia hadir untuk mengetuk:
“Apakah yang kau pegang sungguh hidup,
atau hanya kebiasaan yang kau takuti kehilangannya?”

Hati tak perlu mengusir ragu dengan paksa.
Semakin diusir, ia semakin gaduh.
Duduklah bersamanya sebentar—
tanyakan apa yang ia lindungi.
Sebab ragu sering kali bukan musuh kejujuran,
melainkan penjaganya yang paling cemas.

Jika kejujuran menyakitkan,
bukan karena ia kejam, Nona,
melainkan karena ia memotong tepat di urat yang bernanah.
Luka terasa perih bukan karena pisau,
tetapi karena akhirnya udara masuk.

Apa yang bisa dilakukan hati?

Pegang satu hal saja:
jangan berbohong pada air mata sendiri.
Menangislah jika harus,
pergilah jika memang tak lagi dijaga,
bertahanlah jika masih ada yang tumbuh—
bukan karena takut kehilangan,
melainkan karena yakin sedang dirawat.

Waktu tak perlu dipercaya sepenuhnya,
cukup dihormati.
Ia akan memperlihatkan siapa yang menetap
tanpa perlu diminta,
dan siapa yang pergi
meski telah dijaga sepenuh jiwa.

Dan bila pada akhirnya kejujuran tetap melukai,
ingat ini, Nona:
tersakiti oleh kebenaran
lebih mulia daripada tenang dalam kebohongan.

Takdir tak mempermainkan perasaan,
manusia yang sering menunda kejujuran.
Semoga perasaanmu kelak
tak melawan takdir,
melainkan berjalan searah—
meski pelan,
meski gemetar.

Comments

Popular posts from this blog

senja di ujung jembatan

Dari Akar yang Membara: Kisah Kacang Mayang"