Posts

Airmata waktu 2

(Tuan menjawab, perlahan—seperti menenangkan api yang tak ingin padam, hanya ingin dijaga) Nona, ragu tak pernah datang untuk melukai, ia hadir untuk mengetuk: “Apakah yang kau pegang sungguh hidup, atau hanya kebiasaan yang kau takuti kehilangannya?” Hati tak perlu mengusir ragu dengan paksa. Semakin diusir, ia semakin gaduh. Duduklah bersamanya sebentar— tanyakan apa yang ia lindungi. Sebab ragu sering kali bukan musuh kejujuran, melainkan penjaganya yang paling cemas. Jika kejujuran menyakitkan, bukan karena ia kejam, Nona, melainkan karena ia memotong tepat di urat yang bernanah. Luka terasa perih bukan karena pisau, tetapi karena akhirnya udara masuk. Apa yang bisa dilakukan hati? Pegang satu hal saja: jangan berbohong pada air mata sendiri. Menangislah jika harus, pergilah jika memang tak lagi dijaga, bertahanlah jika masih ada yang tumbuh— bukan karena takut kehilangan, melainkan karena yakin sedang dirawat. Waktu tak perlu dipercaya sepenuhnya, cukup dihormati. Ia akan memperli...

senja di ujung jembatan

Image
--- Bab 1: Kembali Langit Pekanbaru memerah. Senja jatuh perlahan di ujung Jembatan Siak IV, mewarnai sungai yang tenang dengan kilau jingga dan bayang-bayang panjang. Raka berdiri diam di sisi jembatan, tangannya menggenggam sketsa tua yang mulai pudar warnanya. Kertas itu sudah terlipat-lipat, dengan bekas noda kopi di sudutnya—jejak masa lalu yang entah kenapa tetap ia simpan, bahkan setelah bertahun-tahun pergi. Di bawahnya, perahu kayu melintas pelan. Suara motor klotok-nya membelah sunyi. Aroma sungai dan udara lembap menyatu dengan ingatannya: siang bolong naik sepeda ke pasar, malam-malam begadang menggambar di teras, dan tawa yang menggema di warung kopi dekat pelabuhan tua. Semua itu dulu terasa sempit—kota yang katanya tak pernah benar-benar berubah. Tapi sekarang, justru perubahan-perubahan kecil itulah yang membuat dadanya sesak. Trotoar yang dulu bolong, kini sudah dipoles rapi. Toko kelontong tempat ia dulu beli pensil kini berganti jadi kedai kopi dengan lam...

Dari Akar yang Membara: Kisah Kacang Mayang"

Image
Bab 1: Sutra Merah di Gerbang Istana Angin malam menyapu pelan pipiku saat aku berdiri di gerbang istana. Wangi bunga tanjung masih tercium samar, meski kini bercampur dengan asap dan darah. Di kejauhan, bulan purnama menggantung diam di langit, menyaksikan kehancuran yang tak pernah aku bayangkan terjadi pada malam seharusnya penuh berkah. Malam itu adalah malam perjodohanku. Malam penyatuan dua kerajaan besar di tepi Sungai Siak. Tapi tak ada musik, tak ada nyanyian. Yang terdengar hanya jerit dan gemuruh. Api membakar paviliun utama, dan tangga istana—yang dulu kupijak dengan harapan—kini disirami darah para penjaga. Aku ingat tubuh dayangku, Ranti, menggigil dalam pelukanku. Gaun sutra merah yang kupakai—hadiah ibuku dari Melaka—robek untuk membalut lukanya. Tangannya menggenggamku lemah, matanya mulai buram. “Putri...” bisiknya, begitu lirih. “Ssshh... aku di sini. Bertahanlah. Aku janji,” ucapku, meski suaraku sendiri pecah. Aku menggigit bibir, mencoba menahan air ma...

Syair Agama: Cahaya Petunjuk dalam Kehidupan

Pembuka: Bismillah kata pembuka Dengan asma-Nya hidup bermakna Limpah rahmat-Nya sekalian rata Kepada umat-Nya yang setia Keutamaan Ibadah: Rajin-rajinlah beribadat Jangan lupa mengerjakan salat Perbanyak sedekah dan zakat Agar selamat dunia akhirat Ayat-ayat suci kudendangkan Salat lima waktu kulaksanakan Zikir-zikir terus kulantunkan Ibadah kepada-Mu, Tuhan Janganlah engkau takabur Perbanyak tafakur dan bersyukur Nikmat Allah wajib disyukuri Agar selamat dari siksa kubur Pentingnya Taubat: Janganlah engkau berbuat maksiat Jangan pula berbuat jahat Segeralah engkau bertobat Agar hidup lebih selamat Bertobatlah setelah berbuat salah Karena manusia makhluk yang lemah Mohon ampun dan petunjuk-Nya Agar selamat dunia dan surga Kini kuingin kembali Kepada-Mu wahai Ilahi Agar tenteram menaungi Untuk sisa hidup ini Menjauhi Kejahatan dan Menguatkan Iman: Jauhi semua perbuatan jahat Jauhi pula perbuatan maksiat Mari segera kita bertaubat Supaya selamat dunia akhirat Jangan risau d...

Andalusia

Ketika bujan deras memberikan keberkahan yang sebesar-besarnya Oh saat perjumpaan kita penuh kenangan di Andalusia Pertemuan dengan kekasih memang sangat indah. Namun berlali cepat seperti mimpi atau kenikmatan sekejap Kala hujan deras memberikan keberkahan yang sebesar-besarnya Ohhh saat perjumpaan kita di Andalusia. Di malam hari kegelapanya mampu menyembunyikan rahasia cinta Andai saja matahari pagi tidak menyinarinya Dimana berkilau condong ke depan sebelum jatuh cinta Berjalan terus meninggalkan cinta dan kenangan indah Baru saja kami merasakan kebahagiaan perjumpaan hingga pagi hari tiba. Lalu kami harus berpisah saat penjaga kasar saat menyerang dan membubarkan. Bintang menghilang dan mengirim pagi untuk memisahkan kita Mata bunga bakung yang iri, akhirnya kebahagian kita tidsk bertahan lama. Kejayaan yang disayangkan harus segera berlalu Berlalu dalam sekejap mata Bagai mengarahkam anak panah lalu melepaskanya Maka hatiku adalah milik pemangsa Dan orang yang membuat air mataku ...

Malam Jatuhnya Kami

Kami terjatuh. Aku dan Eki. Tersungkur ke tanah, tubuhku terseret bersama motor yang tiba-tiba membisu, sementara Eki terlempar ke dalam semak-semak di pinggir jalan. Dunia terasa berhenti sejenak, sebelum suara langkah-langkah cepat teman-temanku membangunkan kenyataan. Mereka bergegas mendekat, menanyakan keadaan kami, memeriksa luka-luka yang mulai terasa perih di kulit. Siku tanganku lecet, perihnya mulai menjalar seiring dengan denyut jantungku yang masih berpacu kencang. Eki lebih parah—kakinya terluka, dan satu lagi: sandalnya hilang entah ke mana. Kami mencari di sekitar, menyibak debu yang menempel di pakaian, menahan perih sambil sesekali menarik napas panjang. Aku masih bersyukur—aku masih hidup. Tapi sandal Eki? Masih belum ketemu. Satu menit berlalu. Dua menit. Dengan cahaya redup dari ponsel Nokia jadul, kami menyisir sekitar lebih teliti. Lima menit kemudian, Nopen berseru. "Ketemu!" Aku menoleh. Sandal itu... ada di seberang parit, tersangkut di ujung semak-se...